CERITA KUDA DAN SEMUT


PADA suatu hari, seekor kuda sedang beristirehat kerana merasa kepenatan
setelah memikul barangan yang membebankan. Beban yang cuma sebesar setengah
daripada punggungnya itu telah diletakkan dipunggungnya oleh majikan kuda
itu.

Perjalanan yang begitu berat ditambah pula hari yang begitu panas terik, maka
kuda itu pun beristirehat di pohon rendang, dengan nafas yang termengah-mengah
dan mulutnya berbuih-buih.

Ketika kuda itu sedang beristirehat tidak sengaja lalulah segerombolan semut
yang kelihatan sedang bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira sambil membawa
makanannya juga.

Sambil membawa beban masing-masing, ada yang membawa bangkai, tulang-tulang
binatang termasuk cebisan-cebisan ayam dan sebagainya lagi. Kuda itu itu terasa
kehairanan apabila melihat segerombolan semut itu senang hati dengan riang
gembira bernyanyi-nyanyi.

Semut juga melihat kuda terduduk dalam keadaan kepenatan. Sebaik sahaja
menghapiri kuda tersebut, pimpinan semut itu bertanya kepada kuda, “hai kuda,
apa yang sedang kau lakukan di sini.”

“Saya sedang berehat wahai semut,” jawab kuda.

“Kenapa kau kelihatan begitu penat sekali,” tanya semut lagi.

“Itulah dia saya begitu penat sekali sebab membawa beban ini, beban yang
tidak sebesar badanku ini tapi tersangatlah penat bagiku,” jawab kuda itu
lagi.

Maka semut itu pun bertanya, “punya siapakah beban yang kau bawa itu, wahai
sang kuda?”

Maka kuda pun menjawab, “punya bosku yang ada di sana yang sedang minum dan
makan-makan di bawah pohon itu.”

“Oh begitulah ceritanya,” kata sang semut tersebut sambil tersenyum..

Sang kuda berkata, “eh! Kamu semua kenapa begitu gembira?” kata sang kuda
kepada sang semut tadi.

“Kami memang begini setiap hari. Kami juga membawa beban yang berat bahkan
lebih berat dari badan kami tetapi kami rasa gembira sekali.”

“Kenapa boleh jadi begitu ya?” tanya sang kuda dengan rasa hairan.

Ketua semut itu diam sejenak lalu berkata: “Barangkali kerana kita mempunyai
jurang perbezaan wahai kuda.”

“Apa itu perbezaannya?” tanya kuda.

“Kamu membawa beban yang berat tetapi beban yang berat itu bukan kepunyaanmu,
punya majikanmu yang sedang makan minum di bawah pohon sana sedangkan kami semua
membawa beban memang lebih besar daripada badan kami tetapi beban-beban ini
adalah punya kami sendiri, bukan punya bos kami,” demikian penjelasan semut
itu.

Kuda itu termanggu-manggu tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa kerana dia
tetap seekor kuda.

Apa moral dari cerita ini, barangkali kita pernah mendengar: “Saya tidak
pernah berhenti, saya tidak akan menyerah.” Mengapa orang-orang yang sudah punya
penghasilan yang begitu besar tidak pernah penat, tidak pernah menyerah.

Jawapannya cuma satu kerana mereka membawa beban yang dimiliki oleh mereka
sendiri, bukan milik orang lain. Ini juga adalah ciri yang paling jelas mengenai
perbezaan antara orang yang menjadi usahawan dengan orang yang bekerja makan
gaji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: